Komitmen SOMBA Di Bidang Pendidikan

Ketika membaca Visi & Misi Pasangan SOMBA, kita akan melihat dengan jelas komitmen dan rencana besar mereka untuk membangun dan meningkatkan kualitas pendidikan di Boven Digoel.  Bahkan, pendidikan merupakan program yang paling diutamakan dari 10 Program Prioritas mereka. Memang, pendidikan (formal maupun non formal), sebagaimana telah diterima secara  umum, merupakan sebuah proses untuk mendidik manusia agar mampu menangkap realitas dan mengubahnya sesuai dengan kebutuhan hidup manusia itu sendiri.

Kita lihat kondisi nyata saat ini di  Boven Digoel dalam konteks yang lebih kecil, pendidikan tidak mendapat perhatian yang serius dari Pemerintah Kabupaten ini. Telah terjadi  banyak ketimpangan, dimana sekolah-sekolah tidak diperhatikan dengan serius, sekolah-sekolah  menjadi miskin tenaga pengajar karena guru-guru ditarik menjadi Kepala Dinas dan  Kepala Distrik, pembangunan infrastruktur sekolah tidak maksimal, bahkan di beberapa kampung, ada bangunan sekolah yang menyerupai kandang ayam. Fasilitas yang dimiliki  sekolah-sekolah di Ibu Kota kabupaten juga jauh dari harapan semua pihak. Hal ini menjadi salah satu penyebab tingginya jumlah penduduk yang buta huruf dan putus sekolah. Ironis memang. Diatas dana Otsus yang melimpah, disertai dengan program prioritas di bidang pendidikan, justru jumah penduduk buta huruf dan putus sekolah semakin meningkat.

Kenyataan pahit tidak hanya terjadi di kampung-kampung, distrik-distrik dan Ibu Kota Kabupaten. Para Mahasiswa Boven Digoel yang tersebar di seluruh Indonesia juga menderita karena dana pendidikan tidak diprogramkan secara jelas dan teratur. Ada Mahasiswa yang dekat dengan kekuasaan, bisa mendapat  Rp. 10.000.000,- sampai Rp. 30.000.000,- setiap kali  ketemu Bupati, sementara Mahasiswa lain, yang jumlahnya mayoritas, terpaksa menunggu bantuan studi dari Pemkab Boven Digoel selama berbulan-bulan.

Program Pembagian Bantuan Studi melalui Tim Khusus dari Kabupaten juga banyak menimbulkan masalah karena terjadi praktek-praktek kapitalisme birokrasi di dalamnya sehingga program  tersebut tidak efisien, banyak menelan biaya dan membuka peluang untuk terjadi praktek korupsi secara bebas. Program ini telah diprotes oleh para mahasiswa, walaupun dalam skala  terbatas, karena dianggap sebagai aksi pemborosan, biaya yang tidak tepat sasaran, dimana dana pendidikan untuk mereka sebagian besar habis untuk biaya tiket dan akomodasi Tim  Pembagi Bantuan Studi itu.

Kita perlu bicara soal fasilitas : Asrama! Mahasiswa Boven Digoel di berbagai kota  studi  di Indonesia sampai saat ini belum memiliki Asrama yang bisa membuat mereka belajar dengan tenang dan nyaman. Mahasiswa adalah agen pembaharu oleh karena itu mereka harus difasilitasi untuk menimba ilmu sebanyak mungkin dan dengan kualitas intelektual dan  kemampuan akademik yang memadai, mereka bisa membangun Boven Digoel, Papua dan Indonesia.

Sayangnya, kondisi untuk memacu mereka lebih tekun belajar tidak diciptakan. Di Jayapura, sebuah kota studi dimana jumlah Mahasiswa Boven Digoel merupakan yang terbanyak dan multi  etnis dibanding kota-kota studi lainnya, kebanyakan para  Mahasiswa tinggal di gubuk-gubuk yang jauh dari standar kesehatan dan tidak pantas disebut sebagai tempat belajar, atau bahkan menyewa tempat tinggal (kost dan kontrakan) dengan biaya yang mahal. Dengan sendirinya, kualitas akademisnya menurun sebab mereka tidak hanya berpikir untuk menyelesaikan  beban akademik tetapi harus pula berpikir tentang biaya tempat tinggal, transportasi, makan-minum dan kesehatan. Hal ini dapat kita periksa dari Indeks Prestasi (IP) dan Indeks  Prestasi Kumulatif (IPK) mereka tiap semester dan ketika menyelesaikan studi, apakah mereka menulis skripsi, makalah atau memilih jalur bebas.

Kita juga menyaksikan banyak pemuda-pemudi putus sekolah yang tidak diurus secara baik. Program Paket menjadi ajang pertempuran yang tidak sehat, dimana nepotisme membunuh  obyektifitas dan menyuburkan praktek-praktek primordial, etnosentris atau sukuisme. Singkat kata, lapangan pekerjaan tidak diciptakan secara khusus untuk menyerap mereka yang putus sekolah setelah dididik dengan sejumlah ketrampilan tertentu. Pendidikan non-formal tidak efektif, ditandai dengan penguasaan sektor-sektor produktif oleh bukan anak-anak setempat, artinya anak-anak muda Papua Boven Digoel tidak disiapkan untuk bersaing sehat dan menjadi mitra teman-teman pendatang.

Dengan kondisi sistem pendidikan, aturan,  komitmen dan alokasi anggaran yang minim dan pembiayaannya tidak tepat sasaran, menyebabkan Boven Digoel tertinggal dari teman-teman sesama kabupaten Pemekaran seperti Tolikara dan tetangga terdekat kita, Yahukimo. Padahal, sejak jaman Belanda, banyak guru-guru katekis maupun guru-guru subsidi asal Boven Digoel yang disebarkan ke seluruh Papua Selatan dan bahkan Papua. Saat ini  anak-anak didik mereka  banyak yang memperoleh gelar Master dan Doktor, sementara SDM Boven Digoel sendiri terpuruk.

Tetapi kita belum terlambat. Kita perlu memutus mata rantai pembodohan massal, korupsi dan tindakan-tindakan bejat yang mengorbankan dunia pendidikan hanya karena salah urus dan salah atur. Untuk menjawab kebutuhan pendidikan, Pasangan SOMBA punya program yang jelas. Dalam penjabaran program kerja di bidang pendidikan, kita bisa lihat dengan jelas semua sektor yang luput dari perhatian pemerintahan sebelumnya dan menjadi salah satu penyebabnya matinya SDM Boven Digoel sejak dimekarkan tahun 2003 lalu, kini menjadi agenda Pasangan SOMBA. Sasaran program kerja, arah kebijakan dan target-target yang akan dicapai dengan sejumlah indikator keberhasilan telah dirampung dalam Paket Visi & Misi.

Tugas kita semua adalah : (1) memberikan masukan berupa saran dan kritik yang konstruktif terhadap Pasangan SOMBA terkait Program Prioritas di bidang Pendidikan; (2) membangun diskusi diantara sesama pembaca, kita sekalian, untuk mempertajam konsep dan komitmen Pasangan SOMBA tentang Pendidikan; (3) memperbanyak artikel ini dan menyebarluaskannya di kalangan rakyat,  pelajar  dan mahasiswa  sebagai pihak yang selama ini menjadi korban; (4)  karena program harus dijalankan oleh manusia maka  tugas kita yang terakhir adalah memenangkan Pasangan SOMBA dalam Pilkada Boven Digoel 2010 ini agar mereka dapat memimpin Boven Digoel selama 5 tahun kedepan untuk mewujudnyatakan rencana besar mereka di bidang pendidikan demi Boven Digoel, Papua dan Indonesia! Jayalah SOMBA, Jayalah Boven Digoel, Jayalah Papua!  | Download File Versi PDF |

Pos ini dipublikasikan di Komitmen SOMBA dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s